Catatan AISINDO dari Bali

Sanur, BALI — Association for Information Systems (AIS) Indonesia Chapter (AISINDO) menjadi partner Jurusan Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) dalam penyelenggaraan Seminar Sistem Informasi Indonesia dan Information Systems International Conferences (SESINDO/ISICO) 2017.

Lebih dari 60 anggota dan non-anggota AISINDO berdatangan dari berbagai wilayah di Indonesia. Acara yang digelar di Sanur Paradise Plaza Hotel ini dimulai dengan sesi keynote speaker pertama yaitu Prof Matti Rossi dari Finlandia yang membahas tentang Action Research di dunia sistem informasi.

Kemudian sesi berikutnya adalah keynote speaker kedua yaitu Dr. Ahmed Ilham dari University of New South Wales, Australia yang membahas tentang proses pengembangan e-Government di Bangladesh. Salah satu ungkapan menarik dari slide Dr Ahmed adalah “the machine is important, but the man behind the machine is more important”.

Di sela-sela break, di ruangan Negara, ada sesi meet and greet dengan President AIS worldwide yaitu Prof. Matti Rossi yang dipandu oleh Tony Dwi Susanto, Ph.D sebagai Presiden AISINDO. Sesi ini hanya berlangsung sebentar dan diakhiri dengan sesi selfie bersama Prof. Matti Rossi.

Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi Workshop e-Government yang dipresentasikan oleh Tony Dwi Susanto, Ph.D. Sesi ini berlangsung hingga sore dan diakhiri dengan sesi tanya jawab yang juga dihadiri oleh Dr. Ahmed.

Di sesi Workshop e-Government Tony Dwi Susanto, Ph.D membeberkan tentang bagaimana konsep Dasar e-Government, smart city, governance, & management. Selain itu ia juga berbagi tips jika ingin membuat masterplan e-Government, agar dapat menyelaraskan tujuan pemerintah dengan konsep teknologi informasi. Tak hanya itu saja, ia juga mengupas tentang pengalamannya membuat struktur dinas komunikasi dan informatika menurut peraturan dan kerangka kerja Information Technology Infrastructure Library (ITIL), bagaimana siklus layanan teknologi informasi, membangun layanan service desk e-Government hingga bagaimana melakukan evaluasi e-Government.

Peserta yang hadir begitu antusias. Salah satunya adalah Pak Imron dari Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang bercerita tentang kondisi di daerahnya yang tertarik menggunakan IT tetapi banyak kendala yang dihadapi. Mulai dari sumber daya teknologi, hingga sumber daya manusia. Salah satu fakta menarik yang ia sampaikan di forum adalah ketika ada tekanan dari pemerintah pusat untuk penggunaan IT dalam pelaporan, maka secara ajaib semua daerah akan melaksanan tugas dengan baik, meskipun itu adalah daerah terpencil.

Di tempat terpisah, ada presentasi paper SESINDO dan ISICO yang diadakan secara serentak di beberapa ruangan.

Hari kedua, diawali dengan keynote speaker Dr. Chan tentang bagaimana mengatur kurikulum di program studi Sistem Informasi.

Usai keynote speaker, AISINDO menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) tentang kurikulum program studi sistem informasi (SI) di Indonesia. Di hari kedua ini, banyak para ketua prodi SI hadir untuk ikut berdiskusi.

Diskusi berlangsung menarik dan interaktif. Beberapa peserta yang hadir diberi kesempatan untuk mempresentasikan tentang bagaimana seharussnya kurikulum sistem informasi. Ada enam perwakilan peserta yang akan presentasi, satu diantaranya dari praktisi bisnis. Mereka harus menjawab (1) Strategi dan tahapan/metode AISINDO dalam penentuan profil lulusan dan capaian pembelajaran lulusan (CPL) prodi sistem informasi Indonesia ke DIKTI?; (2) Karakteristik & kompetensi khas lulusan (CPL) prodi sistem informasi di Indonesia dibanding lulusan prodi computing lain?; (3) Usulan profesi yang paling dapat diklaim domain SI?

Salah satu pengalaman yang menarik dipresentasikan oleh Dr Meyliana dari Bina Nusantara Jakarta. Ia bercerita kalau di Binus adalah metode 3+1, yang artinya 3 tahun di kampus, dan 1 tahun di luar kampus. Ada 5 program khusus di luar kampus yang ditawarkan, namun intership ke luar negeri menjadi yang paling favorit menurutnya.

Selain itu, ada juga program sertifikasi khusus yang diadakan Binus bekerjasama dengan beberapa stakeholder. Sehingga setelah lulus, mahasiswa Binus bisa langsung menjadi auditor tersertifikasi resmi.

Dr. Chan yang datang jauh dari Australia, tidak beranjak dari sesi awal FGD ini. Meski sempat terpotong oleh break makan siang, ia tetap serius mengikuti sesi diskusi FGD. Di bagian akhir, ia memberikan masukan dan menyimpulkan hasil diskusi. Salah satu yang ia highlight adalah AISINDO harus mempunyai skema khusus untuk mengakomodir semua hasil diskusi hari itu. Sehingga nanti akan ada standar khusus yang akan menjadi identitas program studi sistem informasi di Indonesia. Tentu dengan mempertimbangkan kebutuhan bisnis dan budaya di Indonesia yang sangat beragam.

Acara kemudian diakhiri dengan penutupan ISICO 2017 yang juga menjadi penutupan acara secara keseluruhan.

 

Catatan:

ALAM

One thought on “Catatan AISINDO dari Bali

Berikan Komentar