Selamat Datang di Taiwan, Cong!

wahyualam.com - taiwan dari atas

Pesawat perlahan turun. Pemandangan yang awalnya didominasi awan putih perlahan berubah. Daratan Taiwan mulai terlihat. Sepintas lebih banyak warna hijau daripada gedung tingginya. Semakin lama, maka terlihat jejeran gedung tinggi. Mungkin itu pusat kota Taipei. Gedung yang berjejer seperti berlomba-lomba mencapai langit. Mereka dikelilingi lingkungan hijau. Pegunungan hijau terlihat lebih mendominasi.

Hingga akhirnya pesawat pun mendarat. Aku memejamkan mata, bersyukur sampai di Taiwan setelah perjalanan melelahkan selama dua hari. Bau kemeja yang aku pakai mulai tak sedap harus segera mandi. Seketikan merindukan kamar mandi.

Bandara internasional Taoyuan pun menyambut kedatangan kami. Dahulunya bandara ini bernama andara Chiang Kai-shek, terletak di Desa Tayuan, Kabupaten Taoyuan dengan jarak sekitar 40 menit perjalanan bebas hambatan dari kota Taipei. Bandara ini terdiri dari 2 terminal yang hanya melayani penerbangan internasional maupun transit internasional ke Kaohsiung, jadi bandara ini tidak melayani penerbangan domestik.

Hari masih panas meski sudah lewat waktu Ashar. Bandara Internasional Taiwan di Taoyuan ramai dengan pendatang. Kami melenggang meninggalkan pesawat. Menurut rencana kami akan dijemput oleh kakak kelas yang sudah lebih dulu kuliah di NTUST. Fasilitas ini gratis, karena kami dijemput oleh shuttle bus kampus.

Pertama kami melewati metal detektor otomatis. Tak ada petugas yang memeriksa seluruh tubuh. Kami terus saja melewati metal detector. Tiba-tiba Saide dipanggil. Ia mendekat ke petugas yang sedari tadi melihat ke layar komputer. Di layar itu terlihat video hitam-putih yang bergambarkan semua penumpang berjalan. Layar itu seperti mendeteksi siapa yang membawa barang mencurigakan di badan/tasnya. Kerennya tak ada lagi bantuan manusia. Hanya kamera dan metal detector.

Petugas memasukkan suatu alat sebesar spidol boardmarker ke telinga Saide. Aku ngga tahu apa yang bisa dilihat dari telinga. Apakah karena Saide berwarna Arab sehingga dipanggil? Atau karena aku lihat gambar Saide terlihat ada titik merah di layar. Entahlah. Yang jelas, alat yang dimasukkan ke telinga Saide itu adalah pemindai virus MERS yang sedang menghantui Taiwan. Mungkin Saide diidentifikasi terjangkit virus MERS. Tidak lama, usai ‘memeriksa’ kuping Saide, petugas itu melepaskan Saide ke pangkuan kami.

Hal kedua yang harus kami lewati adalah petugas imigrasi. Aku ngga melihat sign sejelas di Singapura. Akhirnya aku salah antrian, aku didatangi petugas bandara, dan ia menyapaku dalam bahasa China. Mungkin karena tahu aku bukan orang Taiwan, ia kemudian menyuruh kami untuk mengantri di pintu khusus non-citizen. Belum mengantri, sudah ada petugas wanita berbadan gemuk menghampiri. Kami was-was. Ternyata si Icha dipanggil, karena ia menggunakan tongkat, ia mendapatkan prioritas utama. Asyik ya. Mungkin di bandara di negara lain juga begitu. Jangan terlalu diistimewakan. Bukannya harus begitu. Yang memakai alat bantu seperti tongkat dan kursi roda harusnya diprioritaskan? Ngga ada yang aneh. Biasa saja.

Lolos pemeriksaan imigrasi dan mendapatkan stempel dari petugas, tujuan kami selanjutnya adalah mengambil bagasi.

Bandaranya kecil, lebih kecil dari Juanda. Ada artis yang syuting. Dan tak ada satu pun kalimat yang kami mengerti di sekitar bandara. Semuanya berbicara seperti ‘tawon’. Sepertinya ingin rasanya disulap tiba-tiba pintar bisa berbahasa Mandarin. Sehingga bisa mengerti suara ‘tawon’.

So, target selanjutnya harus bisa bahasa Mandarin. Titik, ngga boleh tidak.

Kami mampir ke toilet terlebih dahulu. Empat jam di pesawat rasanya masih sedikit jetlag. Sambil menunggu teman yang masih ke toilet, aku mengaktifkan ponsel dan bertanya kepada Ko Erwin, jam berapa dan kapan ia menjemput kami di bandara.

Ko Erwin tidak menjawab. Mungkin ia sedang lelah.

Kami lama sekali mengobrol di depan toilet. Kami bertemu teman yang juga dari Indonesia. meski baru bertemu semenit yang lalu, tiba-tiba kami serasa sudah sekeluarga saja. Akrab sekali. Begitulah masyarakat Indonesia di seluruh dunia. Jika sudah ketemu saudara satu nusa, artinya ia adalah saudara baru mereka.

Tempat pengambilan bagasi adalah tujuan berikutnya. Tak ada tas kami. Tak ada nomor penerbangan. Kami harus dengan teliti melihat sign yang ada di langit-langit bandara. Meski lebih banyak menggunakan huruf mandarin, namun untung masih ada sign berbahasa Inggris.

Tak ada tas kami. Kami kebingunan. Juga karena di list kedatangan bagasi tak ada nama Tiger Air dan nomor penerbangan kita. Sepertinya tas kami belum datang. Kami terus memutari di sekitar pengambilan bagasi. Terlihat mesin penggerak tas –yang aku ngga tahu namanya—bergerak, seperti menjajakan tas penumpang dari penjuru dunia.

Ternyata aku melihat tas kami sudah berada di lantai. Tidak lagi berada di atas mesin yang berjalan. Sepertinya kami terlalu lama berdiskusi, sehingga bukan kami yang menunggu koper datang. Koperlah yang menunggu kedatangan kami.

Petugas dengan anjing pelacak mencium setiap koper yang lewat. Kardus punya Tri Luhur ditempeli stiker dengan bergambarkan anjing. Aku bisa menebak: kardus ini dicurigai oleh anjing pelacak, sehingga harus diperiksa.

Tri Luhur dibawa petugas di ruangan tertentu dengan membawa kardus yang sudah terpasang stiker anjing. Kami menjaga kopernya dan berharap tidak terlalu lama dia ditahan petugas. Entah apa dosa kami ini. Selalu ada saja yang ditahan.

“Kasian Ibuku!” kata Tri, kesal.

Rendang pemberian ibunya disita petugas. Aroma daging itu tercium anjing. Mungkin anjingnya belum makan, jadi ia mau makan rendang buatan ibunya Tri. Kami ikut marah, andai itu bisa lolos, kami bisa mekan rendang gratis di Taiwan. Makanan halal yang jauh belinya. Masa iya harus balik ke Indonesia hanya untuk beli rendang. Dalam hati aku sebenarnya merindukan bebek cetarnya Ole Olang Resto!

Urusan selesai. Kami melenggang keluar. Aku mengusap layar ponsel. Tak ada balasan Messager dari Ko Erwin.

Di pintu kedatangan suasana begitu ramai. Lebih mirip terminal kalau begini. Beberapa orang memegang kertas bertuliskan nama orang yang ia jemput. Ada kertas bertuliskan mandarin yang tak kami mengerti. Ada juga yang menjemput peserta sebuah seminar, juga ada dari beberapa kampus. Kami memperhatikan satu-persatu. Akhirnya kami menemukan tulisan NTUST. Seorang mahasiswa berbadan gemuk mengangkat kertas bertuliskan NTUST Students. Kami senang dijemput. Ia adalah Septian dan temannya. Bukan Ko Erwin.

Kami sudah disiapkan mobil kampus dengan tulisan huruf mandarin. Entah apa tulisan di mobil tersebut. Yang jelas sopirnya begitu tanggap. Ia langsung memasukkan semua koper kami ke dalam mobil. Aku ngga mau ketinggalan, bukan, aku bukan membantu pak sopir, aku ngga mau ketinggalan untuk memotret mobilnya. Maafkan aku pak sopir.

Kami pun berangkat ke NTUST. Kami menikmati jalanan Taoyuan ke Taipei. Mobil yang digunakan berbeda dengan di Indonesia. Kendalinya berada di sisi kiri. Kemudian lajur yang digunakan bukan lajur kiri seperti di Indonesia, melainkan lajur kanan.

Mobil melaju kencang, melintasi tol, menembus jalanan, hingga akhirnya kami sampai di depan International Dormitory. Gedung tinggi ini menyambut kami. Seperti mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa asing yang baru saja tiba.

Tidak ada yang tahu, kami belum mandi dari dua hari yang lalu. Kami sangat merindukan kamar mandi.

Dan kisah lebih dari tiga ratus hari ke depan, akan dimulai hari ini.

‘Selamat datang di Taiwan, Cong.’ kata Kemal dengan logat Surabaya.

Dan selama tiga ratus hari ke depan, kami kami lakukan adalah hal pertama kali. Selalu menyenangkan sesuatu yang berhubungan dengan pertama kali.

ALAM

4 thoughts on “Selamat Datang di Taiwan, Cong!

Berikan Komentar