Masjid Al-Akbar dan Menara Sembilan Puluh Sembilan

Pertanyaan pertama ketika berada di tempat baru: dimanakah Masjid yang bagus? Aku gemar sekali berkunjung ke Masjid. Selain ingin merekamnya dalam instagram, masjid selalu saja berhasil memberikan keteduhan bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Suatu hari, menjelang tengah hari yang terik, aku ingin sekali berkunjung ke Masjid. Masjid pilihanku jatuh pada ke masjid jami’ Surabaya. Adalah Masjid Al-Akbar yang menjadi pilihanku. Inilah masjid terbesar kedua di Indonesia setelah masjid Istiqlal di Jakarta.

Letaknya berada di arah barat laut kota Surabaya, jika dari jalan A. Yani, belok ke barat tepat sebelum Royal Plaza jika dari arah selatan. Ini adalah kali kedua setelah terakhir kali aku ke masjid ini saat masih ‘mondok’ di SMK.

Menara setinggi sembilan puluh sembilan menyambut kedatanganku. Selepas parkir motor mataku tertuju pada menara yang menjulang menantang langit. Aku akan naik ke sana hari ini.

Penasaran dengan besarnya masjid ini, aku berjalan santai mengelilinginya. Suasananya sejuk, area parkir mobil luas, petunjuk arah bagi pengunjung terpasang lengkap, beberapa petugas sigap menjalankan tugas di berbagai sudut. Terlihat sekuruman orang dengan mengenakan batik. Mobil hilir mudik, keluar masuk, terparkir dua mobil yang berbeda. Beberapa ikat bunga tertata menghiasi sisi depan mobil. Dua mobil ini ternyata adalah mobil dua pasang pengantin. Dua gedung pertemuan besar sudah tersewa untuk keempat mempelai yang berasal dari empat keluarga berbeda. Sayup-sayup gending temanten terdengar menandakan acara telah dimulai.

Masjid Nasional Al Akbar (atau biasa disebut Masjid Agung Surabaya) ialah masjid terbesar kedua di Indonesia yang berlokasi di Kota Surabaya, Jawa Timur setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Posisi masjid ini berada di samping Jalan Tol Surabaya-Porong. Ciri yang mudah dilihat adalah kubahnya yang besar didampingi empat kubah kecil yang berwarna biru. Serta memiliki satu menara yang tingginya 99 meter.

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dibangun sejak tanggal 4 Agustus 1995, atas gagasan Wali Kota Surabaya saat itu, H. Soenarto Soemoprawiro. Pembangunan Masjid ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden RI Try Sutrisno. Namun karena krisis moneter pembangunannya dihentikan sementara waktu. Tahun 1999, masjid ini dibangun lagi dan selesai tahun 2001. Pada 10 November 2000, Masjid ini diresmikan oleh Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid.

Secara fisik, luas bangunan dan fasilitas penunjang MAS adalah 22.300 meter persegi, dengan rincian panjang 147 meter dan lebar 128 meter. Bentuk atap MAS terdiri dari 1 kubah besar yang didukung 4 kubah kecil berbentuk limasan serta 1 menara. Keunikan bentuk kubah MAS ini terletak pada bentuk kubah yang hampir menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer yang memiliki tinggi sekitar 27 meter. Untuk menutup kubah, dipergunakan sebuah produk yang juga digunakan di beberapa masjid raya seperti Masjid Raya Selangor di Syah Alam (Malaysia). Ciri lain dari masjid raksasa ini adalah pintu masuk ke dalam ruangan masjid tinggi dan besar dan mihrabnya adalah mihrab masjid terbesar di Indonesia. ~Wikipedia

Aku masuk ke dalam Masjid. Terlihatlah daun pintu Masjid. Begitu besar dan tinggi. Mirip daun pintu kerajaan Arab tempo dulu. Warnanya biru berpadu dengan cat warna emas melengkung setinggi empat meter. Bentuknya sama antara satu pintu dengan pintu-pintu yang lain di sekeliling Masjid. Kusucikan diri dengan berwudhu. Untuk ke tempat wudhu, kita harus menuruni tangga karena berada di bawah tanah. Tempatnya luas, aku sempat bingung memilih kran air yang sebelah mana.

Ketika memasuki masjid, tiba-tiba aku merasa kecil sekali. Bangunan ini begitu besar dengan atap terjulang tinggi. Aku melihat kobangan berbentuk lingkaran. Aku berada tepat di bawah kubah utama. Lantainya bersih, suasananya sejuk meski tanpa pendingin, sajadahnya berwarna hijau dan begitu tebal. Arsitektur mihrab dipenuhi dengan ukiran ayat-ayat suci Al-Quran. Perpaduan arsitektur, warna dan pencahayaan lampu memberikan kesan khusyu’ bagi siapa saja yang bermunajat.

Dua rakaat sholat Tahyatal Masjid kutunaikan. Sebentar lagi masuk waktu Dhuzur. Aku berdiam di dalam masjid sambil memandangi setiap senti ornamennya.

Tabuhan bedug menghentikan lamunanku. Suara adzan seperti di Mekkah membahana melalui speaker di berbagai sudut masjid. Suara Adzan ini juga akan terdengar di berbagai penjuru Surabaya. Menjadi pengingat telah memasuki waktu Dhuzur.

Entah apakah ada hubungannya, antara ornamen masjid, cuaca yang sejuk dan tebalnya sajadah terhadap kekusyukan seseorang menunaikan sholat. Aku tidak tahu apakah ada hasil hasil riset hal ini. Namun, aku beranggapan semuanya berhubungan.

Usai sudah mengangumi sisi dalam Masjid. Masih ada satu hal yang aku ingin ketahui: menara sembilan puluh sembilan. Menara ini dibuka tepat pada pukul satu siang.

Berada di menara ini, kita bisa melihat kota Surabaya dari atas. Serasa terbang seperti elang yang terbang di langit Surabaya. Suasana di atas menara tak berbeda jauh seperti berada di Monas, Jakarta. Hanya saja, jika di Monas, terdapat petunjuk tempat atau gedung populer, sehingga memudahkan pengunjung mengetahui letak tempat atau gedung terkenal di Jakarta.

Kemegahan masjid dan menara sembilan puluh sembilan menjadi pasangan yang pas untuk Masjid Nasional Al-Akbar. Jika ke Surabaya, mampir yo, Rek!

ALAM

One thought on “Masjid Al-Akbar dan Menara Sembilan Puluh Sembilan

Berikan Komentar