Secuil Keindahan Indonesia dari Malang #2

Malang, Sabtu, 8 September.

Dingin masih saja menjadi teman setia kami di pagi ini. cuaca dingin lebih menusuk di sekitar pukul 4-5 pagi. Suara hilir mudik kendaraan terdengar sesekali. Bunyi burung dipadu merdu bunyi serangga bercampur dengan tebal kabut menyeruak begitu saja.

Teman-teman peserta diklat wargalab sudah siap –tentunya sudah mandi semua-. Bis sudah dipanasi. Agenda kita hari ini adalah berkunjung ke Coban Rondo, wisata air terjun yang ada di Kota Batu, Malang. Yeah! Senangnya hati ini. Pasti ada sesuatu yang istimewa saat pertamakali akan mengunjungi tempat baru. Coban Rondo bukanlah nama asing di telinga masyarakat Jawa Timur, begitu juga telingaku. Hanya saja aku belum ada kesempatan berkunjung ke tempat ini.

Matahari sudah mengintip menyinari Batu pagi itu, tapi sengatan sinarnya terfilter dengan sejuknya udara di kota Apel ini. Bis harus meliuk-liuk mengikuti liukan jalan yang seperti ular. Suasana kota Malang di pagi hari terlihat dari atas Bis. Suasan riang mengantarkan kita ke wahana air terjun yang ada di 1.135 M Di atas Permukaan Laut ini.

Beberapa game out bond kami adakan di bibir Coban Rondo. Hanya ada dua permainan. Pertama permainan untuk melatih mental presentasi di depan kelas. Kedua adalah melatih ketangkasan juga memupuk kebersamaan antar anggota.

Tubuh tidak terasa lelah meski harus berlari-lari bermain. Cuaca dingin menusuk kulit. Semakin terasa saat kita bersama-sama menuju Coban Rondo dengan berjalan kaki. Bukan melewati jalan setapak yang sudah disediakan pengelola wisata, tapi melewati aliran air yang bermuara dari air terjun. Dingin semakin terasa saat kaki menyentuh aliran air yang terasa sangat dingin. Suara air terjun mulai membuncah di telinga. Semakin keras dan aku melihatnya. Ternyata air terjun ini sangat tinggi. Air terjun ini mempunyai tinggi 84 M. Tentram saja rasanya hati ini melihat setiap dentuman air yang menjatuhi bebatuan di bawahnya. Air itu seolah jatuh dari atas bukit dengan begitu lepas, melepas kepengatan diri, kegundahan hati para pengunjungnya.

Dahulu kala ada sepasangan pengantin yang baru melangsungkan pernikahannya. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang akan menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah 36 hari (selapan) menikah, Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang karena baru “selapan” menikah. Tetapi keduanya bersikeras pergi dengan segala resiko apapun yang akan terjadi di perjalanan.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan Joko Lelono. Tampaknya Joko Lelono tertarik dengan kecantikan Dewi Anjarwati. Selanjutnya Joko Lelono berusaha merebut Dewi Anjarwati dari Raden Baron Kusuma. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, sebelum berkelahi Raden Baron Kusuma memerintahkan para punakawan (pendamping) agar membawa Dewi Anjarwati ke suatu tempat yang ada Cobannya (air Terjun). Pertempuran antara dua orang ini berlangsung seru. Karena sama mempunyai ilmu yang sama keduanya gugur dalam perkelahian itu.

Dengan meninggalnya Raden Baron Kusuma maka Dewi Anjarwati menjadi jandda atau “rondo” dalam bahasa Jawa. Sejak saat itulah air terjun yang ditempati Dewi Anjarwati lebih dikenal sebagai Coban Rondo. Konon batu besar yang ada dibawah air terjun itu merupakan tempat dudu sang putri.

Lima kamera yang kami bawa tidak pernah lepas untuk mengabadikan setiap sisi air terjun. Beberapa pose sudah kami lakukan. Cipratan air terjun ini terasa halus seperti debu membasahi badan.

Alam selalu mempunyai caranya sendiri untuk memberikan terapi bagi siapa saja yang melihatnya. Alam mempunyai cara sendiri untuk memanjakan manusia di sekitarnya. Marilah kita rawat alam Indonesia, alam yang begitu indah dan permai ini.

Meski waktu tengah hari, tapi suasana masih seperti pagi hari. Begitu sejuk, tidak ada terik matahari. Beberapa penjajah pentol menjadi buruan teman-teman semua. Sebelum akhirnya beranjak kembali ke vila di Ngroto, Pujon. Beberapa rapat koordinasi, materi dan ditutup dengan berkunjun ke obyek wisata Selecta. Acara yang begitu indah dan menyegarkan setiap peserta dan panitia. Malang, engkau berikan gambaran secuil keindahan Negeri ini. Masih banyak keindahan yang lain yang patut kita lihat dari dekat. Melihat keindahannya dengan mata kepala sendiri.

 

ALAM

One thought on “Secuil Keindahan Indonesia dari Malang #2

Berikan Komentar