Maokong, Kombinasi Perbukitan, Kafe, Teh dan Gondola

Maokong wahyualamcom Taipei

Aku keluar dari kabin Gondola. Melangkahkan kaki menuju pintu keluar station. Sempat ada masalah dengan Easy Card-ku yang tak terdeteksi. Entah kenapa ketiga Easy Card tak bisa terdeteksi. Sepertinya memang ada masalah di panel pembaca kartunya. Teknisi terlihat sedang membongkar salah satu panel yang lain.

Akhirnya, aku bisa keluar. Aku tak tahu berapa tarifnya. Ngga terlalu peduli, yang penting bisa segera melihat di area sekitar Maokong.

Tiba-tiba aku merasa menggigil. Aku menjadi satu-satunya pengunjung yang memakai kaus. Jersey Manchester United yang menempel di badan tak kuasa menahan dingin yang menusuk. Aku keluarkan jaket merah yang juga bertuliskan Manchester United. Semoga sedikit membantu.

Pengunjung terlihat mengular untuk masuk ke station. Rasanya, semakin sore station pun akan semakin ramai dengan pengunjung yang balik ke Taipei. Aku harus memanfaatkan waktu sebelum matahari tenggelam dan udara semakin dingin. Jaket tipisku ini hanya cukup dipakai di dalam ruangan sebenarnya. Aku tertipu dengan sinar matahari yang menyinari sepanjang perjalanan ke Maokong.

Usai keluar dari station, aku melihat tak ada yang spesial. Rasanya hanya seperti berada di kawasan pacet. Tak ada yang spesial. Aku mendengar dari teman-teman jika di tempat ini ada tempat untuk ngeteh ala Taiwan. Tapi dimana ya? Entahlah.

Aku terus berjalan. Perut lapar, aku pun membeli cumi bakar. 80 NT atau sekitar 35 ribu rupiah untuk satu tusuk cumi besar yang dipanggang. Tak banyak pilihan makanan yang bisa aku makan. Semuanya meragukan.

Tujuanku ke Maokong sebenarnya hanya untuk merasakan sensasi naik Gondola. Setelah itu, duduk di suatu tempat yang menghabiskan buku kedua dari trilogi Untuk Negeriku.

Aku terus berjalan ke arah selatan. Aku mengeryitkan dahi. “Begini tok?”, gumamku dalam hati. Kekecewaanku berhenti ketika melihat tulisan Lazy Cafe Day.

IMG_20160131_162218

Papan hitam berukuran 40 cm x 80 cm bertuliskan huruf mandarin, hanya tulisan Lazy Cafe Day yang aku bisa baca. Aku ikuti petunjuk arah dari papan hitam tersebut. Ketika melihat ke arah jurang, aku mendengar gemericik air sungai yang mengalir di dalam jurang. Tetapi anehnya, ada tangga turun ke bawah dengan lampu-lampu yang mati karena memang masih siang. Aku pun penasaran.

Pasti di bawah ada warung kopi dengan nama Lazy Cafe Day. Aku terus menuruni tangga. Suara gemericik air semakin terdengar. Dan benar, ada kafe di bawah jurang.

Kafe ini berada di pinggir sungai, letaknya seperti tersembunyi, jika orang tidak menuruni tangga tak akan ada yang tahu jika ada warung kopi di bawah. Inilah tempat yang aku cari, tempat ngopi, tempat duduk untuk membaca buku. Semakin dekat ke kafe, suara musik Green Day kencang terdengar.

IMG_20160131_162227

Aku pun semangat memasuki kafe karena hentakan musik Green Day dan suasana yang unik. Aku pun memesan segelas Capuccino panas. Dan sepertinya, aku adalah pengunjung pertama. Aku melihat kondisi kafe sederhana ini. Dari sudut ke sudut aku perhatikan. Terlihat gitar dan alat akustik berada di bagian depan kafe, beberapa kursi dan meja ditata sedemikian rupa. Kafe ini tak terlalu besar, mungkin hanya muat untuk 20 orang saja. Pemiliknya sedang sibuk membuat kopi. Terlihat berbagai aneka ragam alat penyeduh kopi tersedia. Aku prediksi pemiliknya pun penikmat kopi yang akut.

Aku suka suasananya, sederhana dan anak muda banget. Suara musik Green Day mengalahkan gemericik air sungai yang mengalir di samping kafe.

Usai meneguk kopi, aku kok penasaran. Rugi rasanya jika tak bertanya dan mengobrol ke pemiliknya. Mumpung masih sepi. Aku bawa kopi dan buku mendekat ke pemiliknya. Ia masih muda, mungkin kakakku terpaut 2-3 tahun saja.

IMG_20160131_161533

Ia mendirikan kafe ini dua tahun. Dugaanku benar, ia membuat kafe ini karena ia pecinta kopi dan biasanya menyeduh kopi dengan berbagai alat. Awalnya ia buat kopi untuk dirinya sendiri, sekarang ia berniat untuk membuat kopi untuk pelanggannya. Aku memberinya beberapa saran, termasuk menyediakan daftar menu dalam bahasa Inggris. Karena semua menu tertulis dalam bahasa Mandarin, sehingga aku pun tak bisa membacanya.

Usai mengobrol dan membaca satu bab buku, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Aku harus membayar 120 NT untuk segelas Capuccino panas, sekitar 48 ribu rupiah saja. Mahal sebenarnya, tapi yasudahlah!

Aku naik menyusuri tangga dan bertemu jalan aspal lagi. Kembali mengikuti saja jalanan ini. Sesuai arahan pemilik kopi, sekitar 15 menit perjalanan, aku dapat melihat jejeran rumah teh khas Taiwan.

IMG_20160131_160632

Ternyata aku salah pilih tempat. Sial, ada satu kafe outdoor yang lebih keren pemandangannya. Kafe ini berada di pinggir tebing, jika membeli kopi di kafe ini, kita akan bisa meneguk segelas kopi dengan bonus memandangi Taipei 101 dari kejauhan. Karena sudah sore dan kafenya penuh, aku hanya bisa melihat dari jalan raya dan memotret Taipei 101 dari kejauhan.

IMG_20160131_160021

Taipei 101 seperti mengintip di balik hijaunya perbukitan di selatan Taipei. Gedung ini seperti memimpin gedung-gedung lain menunjukkan titahnya. Indah sekali. Paduan kepadatan kota terbingkai pemandangan perbukitan nan hijau.

Udara semakin dingin. Matahari sudah segera pamit. Khawatir stasion semakin padat, aku pun putar balik. Aku tak menikmati teh, tak ada kopi kedua, tak ada nongkrong memandangi Taipei 101, aku harus kembali. Semoga bisa ke Maokong lagi, setidaknya sebelum balik ke Indonesia.

IMG_20160131_143248

Maokong. Kombinasi hijaunya perbukitan, kafe, teh dan Gondola. Pemandangannya mirip seperti kawasan hijau di Indonesia. Hanya butuh menyediakan fasilitas kereta gantung, maka Indonesia bisa lebih hebat dari Taipei dengan Maokongnya. Tunggulah, sebentar lagi kita akan punya ‘Maokong’ versi Indonesia. Percayalah!

IMG_20160131_165038_1

ALAM

Berikan Komentar