Menyusuri Aspal di Selatan Madura

Tak pernah bosan. Selalu menarik. Bagiku Madura masih terlalu luas untuk dieksplorasi. Perlahan kucoba datangi satu per satu. Ada keyakinan besar bahwa setiap tempat pasti ada yang baru. Membentang dari garis pantai Kamal hingga ke garis pantai Lombang di Sumenep, pasti ada yang baru.

Biasanya aku lebih sering beraktivitas di sekitaran kota. Berjalan nyaman di ruas jalan propinsi yang lebar. Bertemu truk besar dan bis. Berjumpa dengan kemacetan juga kepulan polusi. Suasana yang tak berbeda dengan kota besar. Kali ini aku melewati ruas jalan raya bagian selatan Madura. Melintasi jalanan sepi. Tanpa lalu lalang bis dan truk besar. Menyusuri desa demi desa di sekitar Kamal, Labang dan Kwanyar. Tiga kecamatan yang berada di selatan kabupaten Bangkalan.

suramadu dari perum basmalah‘Len-jelen’ adalah program rutin Plat-M untuk menduniakan Madura. Langsung berkunjung ke destinasi yang terpilih. ‘Len-jelen’ atau penulisan yang benar alân-jhâlân (more…)

Mewarnai Tengah Malam Banyuwangi

tiket kereta api malang banyuwangi

Bak sinetron di televisi yang sudah menyelesaikan episode terakhir, balada di atas kereta pun usai tersaji. Sebentar lagi akan ada kisah baru yang lebih menarik. Dan kisah itu bernama #GiliWangiTrip. Suatu trip untuk membayar lunas kepengatan pikiran karena ujian akhir semester.

Rencana #GiliWangiTrip sudah berhembus saat usai menggelar trip yang pertama ke Malang. Aku tak sempat mengabadikannya di blog. Karena tempat yang kami datangi sudah tertulis di blog ini. Coban Rondo adalah nama yang tak begitu asing bagi warga Jawa Timur.

Setahun kemudian…

Sebentar lagi kita memasuki stasiun Banyuwangi. Semua orang bergegas. Mengambil tas masing-masing. Perlahan rak terlihat kosong. Aku pun menurunkan tas utamaku. Dua tas kecil lainnya ada di bawah. Aku pastikan tidak ada yang tertinggal. (more…)

Balada di Atas Tawang Alun

Kereta Tawang Alun - Sumber: Wikipedia

Kereta Tawang Alun – Sumber: Wikipedia

Setiap perjalanan menyimpan cerita. Kali ini cerita itu hadir dari dalam gerbong. Di atas kereta Tawang Alun balada itu terjadi. Kemesraan satu keluarga tersaji di depan mata. Sayang jika tak diabadikan.

Kereta berderu, suaranya gesekan roda kereta beradu dengan rel mulai terdengar. Matahari mulai redup berwarna oranye, namun panasnya masih terasa, pelan-pelan kereta Tawang Alun meninggalkan stasiun Malang, bergerak ke arah utara. Tanpa dinyana aku bertemu Dr. Gamal, aku pernah mengikuti presentasinya di Universitas Ciputra dan Hotel Novotel. Dr Gamal duduk di kursi 19A, sedangkan aku di 15E. (more…)

Menyingkap Tabir Kayangan Api

Sepanjang mata memandang, yang terlihat adalah pepohonan yang berjejer di kanan dan kiri jalan ini. Motor yang dikendarai Fadheli dengan lincah menghindari kobangan-kobangan yang seolah tiada henti menghambat perjalanan kami. Sinar matahari mulai meredup, posisinya seolah berada di ujung dari jalan ini. Aku keluarkan iPad karena tak tahan mengabadikan momen indah ini. (more…)

Menelusuri Jejak Erupsi Merapi

Kaki gunung Merapi menyimpan kerinduan tersendiri. Aku rindu meneguk segelas jahe panas sambil memandangi puncak gunung Merapi dari jarak dekat: tiga kilometer. Inilah warung kopi paling keren di pulau Jawa. Untuk itu aku kembali ke sini, bersama teman-teman Plat-M berpetualang menelusuri jejak-jejak erupsi Merapi.

Mendung menyambut kehadiran mobil Innova yang kami sewa. Matahari sama sekali tidak terlihat dari kawasan Kaliurang, yang merupakan taman wisata gunung Merapi. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti tersenyum menyambut kedatangan kami.

Dari kawasan ini kita bisa menyewa jeep untuk menuju warung kopi paling keren se pulau Jawa. Tiga ratus ribu adalah uang sewa untuk kami berlima. Deru mobil Jeep ini membuat kami bersiap. Sopirnya masih muda, dengan ramah meladeni setiap pertanyaan kami.

Sepanjang perjalanan, sopir yang mungkin terpaut dua-tiga tahun lebih tua dari kami itu rajin menceritakan setiap detail apa yang kami lihat di pinggir jalan. Mulai dari jembatan, nama sebuah desa hingga kawasan yang hancur karena luapan lava pijar Merapi tahun 2010. (more…)

Alomampa 3: Menguak Aquarium Raksasa Gili Labak

Indonesia sangat kaya akan biota laut. Raja Ampat, Bunaken dan Karimun Jawa adalah segilintir tempat populer bagi para pencinta kehidupan bawah laut. Sebuah foto yang dipost Alomampa Songennep di Twitter membuatku terbelalak. Aku ngga menyangka. Ternyatapemandangan bawah laut yang lebih sering aku lihat di televisi itu ternyata ada di Madura. Gili Labak adalah nama tempat yang mulai sedikit menggoda telinga backpackers untuk datang. Benar. Di sana terdapat pemandangan bawah laut yang masih asri dan belum banyak terjamah.

***

Gili Labak selalu mengusikku ketika Raden dan Slamet, kawan Plat-M, sampai di sana. Mereka memposting foto-foto pemandangan Gili Labak yang begitu indah. Beberapa media online juga sudah memberi perhatian lebih terhadap Gili Labak. Aku beruntung bisa difasilitasi Alomampa Songennep, beserta sembilan blogger yang lain bisa dengan nyaman pergi ke Gili Labak tanpa memikirkan bagaimana cara sampai di pulau kecil itu. (more…)

Alomampa 2: Skenario Keren di Desa Wisata Sema’an

makan bersama

Acara di batu cenning sudah selesai. Kami turun ke bawah. Katanya Pak Andi, masih ada tiga tempat lagi yang perlu kita datangi. Kami menuruni bukit yang juga diikuti oleh masyarakat yang lain. Tidak lama kami sudah sampai di sebuah rumah sederhana. Arsitekturnya klasik. Sentuhan Belandanya masih kentara.

***

makanan alami

Kami dipersilahkan duduk. Berbagai makanan seperti mengalir deras datang dari dalam rumah. Satu demi satu piring yang berisi berbagai makanan khas desa sudah berpindah ke depan. Perut kami terasa lebih lapar dari sebelumnya ketika memandangnya. Semakin memandang semakin membuat perut kosong. Ada nasi putih, nasi jagung, ikan laut, tahu tempe goreng, sambal terasi, cengi renges, sambal kacang, rujak timun, telur rebus bumbu, dan sayur kelor campur kelapa. Bingung untuk memilih menu makanan yang mana. (more…)

Alomampa 1: Sembilan Blogger Disambut Ratusan Warga

Penyambutan untuk seorang pejabat yang akan datang itu hal wajar. Tetapi ketika kesembilan blogger yang disambut ratusan warga desa itu hal yang aneh. Masyarakat Desa Sema’an, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep seperti berlebihan menyambut kami. Mereka punya cara tersendiri untuk membuat pikiran kami melayang, jiwa kami terbang, dan mata ini berkaca-kaca melihat sambutan semua ini. Nyaris tak percaya tetapi ini nyata. Sebegitu tinggi penghargaan mereka terhadap setiap tamu yang datang.

***

Ini adalah tulisan pertama dalam serangkaian kegiatan Alomampa Sumenep bersama travel agent Alomampa Songennep 27-28 September 2014. Ada banyak tempat kami kunjungi di Sumenep. Ada Gili Labak, Musium, Keraton, Karapan Sapi dan Desa Wisata Sema’an.

Ratusan foto juga menghasilkan banyak cerita. Tulisan ini akan dimulai dari wisata Desa Sema’an.

Mobil elf yang kami tumpangi berjalan melambat, tabuhan terbang dan lantunan sholawat nabi perlahan terdengar dari balik jendela. Itu membuat kami terbangun dari tidur. Mungkin acara manten. Sekarang adalah bulan baik untuk acara pernikahan. Bis elf menepi di depan segerombolan orang yang melantunkan sholawat. Beberapa orang berpakaian batik dengan bawahan sarung dan berikatkan odheng khas Madura juga berkeliaran di depan mata.

sambutan saat pertama kali datang

Aku masih belum mengerti ada apa ini. Menurut rundown, kita hanya akan melihat sebuah batu yang bisa berbunyi, batu cenneng namanya. Saat aku dan teman-teman turun, seorang bapak rupawan bersarung dan berbaju merah lengkap ikat odheng tersenyum kepadaku. Ia bernama Pak Andi. Salah satu pegiat wisata di Desa Sema’an, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep. (more…)